Laptop dan komputer dengan spesifikasi kecerdasan buatan atau AI menjadi tren pada 2025. Teknologi itu tidak hanya diminati, tetapi juga dinilai memudahkan pengguna. Sejumlah produsen pun berlomba meluncurkan berbagai perangkat berbasis AI meski ada tantangan.
Salah satu produsen yang mengembangkan laptop dan komputer berbasis AI adalah Acer, perusahaan teknologi elektronik multinasional. Perangkat dengan spesifikasi itu memiliki perangkat lunak khusus dalam bentuk prosesor AI atau NPU (neural processing unit).
Kehadiran NPU ini memungkinkan beban kerja yang menggunakan AI dapat dilakukan oleh NPU, tidak lagi membebani central processing unit (CPU). Intinya, teknologi ini meningkatkan performa perangkat, mengoptimalkan daya, serta memiliki kemampuan mengerjakan banyak hal.
Dalam temu media di Jakarta, Selasa (11/3/2025) malam, misalnya, Acer Indonesia mengenalkan Swift Go 14 AI, laptop berspesifikasi AI. Berat laptop ini hanya 1,3 kilogram, lebih ringan dibandingkan dengan perangkat sejenis yang bisa mencapai 3 kg. Ketebalannya tercatat 14,9 milimeter.
Meski tergolong tipis, laptop ini memiliki sistem operasi Windows 11 dan daya tahan baterai hingga 28 jam. Laptop dengan kualitas kamera jernih ini punya performa AI pada NPU hingga 48 triliun operasi per detik (Tops). Semakin tinggi Tops, kian cepat NPU memproses data AI.
Sederhananya, laptop yang diluncurkan tahun lalu itu tidak bakal ngadat saat memproses fitur AI. Matius John Tirtawirya, Consumer Notebook Product Manager Acer Indonesia, mencoba membuktikannya dengan mengoperasikan sejumlah fitur berbasis AI di laptop Swift Go 14 AI.
John menunjukkan sejumlah model kecerdasan buatan generatif (Gen AI), seperti OpenAI GPT-4o, Ollama, dan Deepseek R1. Berbagai model itu terintegrasi di perangkat dan bisa diakses secara offline. Fitur itu dapat membuat konten berupa teks, video, gambar, serta algoritma baru.
Lalu, John meminta OpenAI GPT-4o membuat menu buka puasa selama sepekan. Kata kuncinya, menu itu menarik dan memiliki cita rasa Indonesia dan sedikit pedas. Hanya hitungan detik, model itu menjawab sesuai perintah. Ada es timun, wedang jahe, udang bakar rica, dan lainnya.
Ia memberi instruksi agar OpenAI GPT-4o menghasilkan visual kartu ucapan Ramadhan yang bahagia, bernuansa kekeluargaan, dan resolusi gambarnya tinggi. Teksnya maksimal 500 karakter. Dalam sekejap, mesin menjalankan perintah itu dan dialihkan ke bahasa Inggris.
Kemudian, hasil yang tadi dimasukkan ke fitur pembuatan gambar. Pada sesi ini, laptop membutuhkan koneksi internet. Setelah beberapa detik disalin, muncul empat visual ucapan bertema Ramadhan. Gambar itu berupa suasana orang makan di meja dengan warna terang.
Atribut bintang, bulan, lampu, dan kembang api menambah syahdu atmosfer bulan puasa. Namun, salah satu gambar membuat tulisan yang salah, yakni ”Mamadan”, bukan ”Ramadhan”. ”Ini hasilnya cukup bagus. Mungkin laptopnya juga lagi puasa. Tapi, ini sudah bagus,” ucapnya.
John juga menunjukkan bagaimana laptop spesifikasi AI dapat membantu merestorasi foto dari yang blur menjadi lebih jelas saat diperbesar. Bahkan, foto itu dapat diperbesar hingga skala 6. ”Dengan solusi teknologi AI, pekerjaan pengguna dapat lebih mudah. Dan, ini gratis,” ujarnya.
Menurut John, laptop dengan fitur AI dapat membantu pengguna mengerjakan tugas hingga merencanakan mudik. ”Dari pelayanan, hiburan, komunikasi, keamanan, hingga kesehatan butuh AI. Tren AI bukan lagi sebagai fitur pelengkap, tetapi terkait kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Tren 2025
Riko Gunawan, Product and Solution Director Acer Indonesia, mengatakan, laptop dan komputer berbasis AI menjadi tren tahun ini dan diperkirakan berlanjut beberapa tahun ke depan. ”Karena memang enggak bisa dimungkiri, AI menjadi suatu teknologi yang saat ini diminati,” ujarnya.
AI, katanya, juga sangat membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk studi maupun pekerjaan di kantor. Riko enggan menyebut angka penjualan produk AI. Namun, dua tahun terakhir, pihaknya fokus mengembangkan laptop, PC, dan perangkat lainnya berbasis AI.
”Kami sudah memiliki hampir 10 jenis laptop dan desktop yang terintegrasi AI,” ucap Riko. Selain laptop Swift Go 14 AI, ada juga laptop Acer Chromebook Plus dengan fitur Google AI, PC Aspire 14 AI, hingga Helios 18 AI dan TravelMate P614 AI yang menurut rencana dirilis tahun ini.
Tidak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan laptop gaming dengan spesifikasi AI. Komputer khusus gaming sebelumnya jadi tren pada pandemi 2020. Acer memiliki komputer server, komponen perangkat keras canggih (GPUs), dan workstation atau komputer spesifikasi tinggi.
”Jadi, untuk perusahaan yang mau menjalankan aplikasi AI, kami punya perangkat server yang mendukung,” ujarnya. Meski tidak menyebutkan angkanya, menurut Riko, minat perusahaan dan universitas terhadap perangkat berspesifikasi AI cukup tinggi. Salah satu tujuannya ialah riset.
”Mereka mengembangkan riset menggunakan aplikasi AI, misalnya smart city (kota cerdas). Bisa menggunakan fitur face recognition (pengenalan wajah) untuk surveilans atau teknologi melihat titik kemacetan di kota,” ungkapnya. Semua inovasi itu membantu pengguna.
Selain Acer, produsen teknologi Lenovo juga gencar menghadirkan laptop dan PC berbasis AI. Laptop Yoga Slim 7i dan Yoga 9i 2-in-1 dari seri Aura Audition, misalnya, telah terintegrasi dengan Copilot + PC. Laptop ringan dan tipis ini menggunakan prosesor Intel Core Ultra Seri 2.
Prosesor ini dikenal hemat energi karena dukungan mesin AI NPU dengan kinerja hingga 47 triliun operasi per detik (Tops). Laptop ini punya fitur berbasis AI, seperti pengenalan wajah yang lebih cepat, pengoptimalan baterai otomatis, hingga peningkatan kualitas video conference.
Produsen teknologi Asus juga telah meluncurkan sejumlah laptop berbasis AI. Salah satunya Vivobook S 15 OLED yang dilengkapi Copilot + PC. Prosesor laptop ini didukung Qualcomm AI Engine dengan kinerja mesin AI NPU hingga 75 Tops, yang memaksimalkan performanya.
Kehadiran teknologi AI ini turut mendorong pertumbuhan penjualan laptop dan komputer global. International Data Corporation (IDC), firma riset global, memprediksi, penjualan laptop, PC, dan tablet tumbuh 3,8 persen pada tahun 2024 atau mencapai 403,5 juta unit.
Bahkan, 2025, diperkirakan akan menjadi tahun pemulihan untuk PC dengan pertumbuhan 4,3 persen. Hal ini didorong oleh peningkatan penjualan Windows 11, yang memiliki fitur asisten AI. ”Gebrakan seputar AI telah mendominasi dalam beberapa tahun terakhir,” tulis laporan IDC.
Akan tetapi, perangkat berbasis AI juga menghadapi tantangan. Salah satunya, pembatasan pembelian oleh perusahaan karena alasan biaya yang lebih tinggi. Perusahaan pun terus mengevaluasi seberapa mendesak kebutuhan mereka pada perangkat dengan spesifikasi AI.
”Tampaknya ada kesenjangan besar antara penawaran dan permintaan (perangkat berbasis AI). Para pembuat PC dan platform ingin menjadikan PC dan tablet AI sebagai hal besar. Namun, lonjakan harga jual membuat para pembeli mulai bertanya,” kata Jitesh Ubrani, Manajer Riset Worldwide Mobile Device Trackers IDC.
Sebagai gambaran, harga laptop dengan spesifikasi AI bisa menyentuh lebih dari Rp 30 juta per unit. Angka ini jauh di atas laptop biasa yang harganya bisa di bawah Rp 10 juta. Meski demikian, perangkat dengan spesifikasi AI memiliki performa dan fitur jauh lebih canggih.
”Sekarang tergantung produsen perangkat lunak komputer untuk membuktikan perlu tidaknya perangkat berbasis AI,” ujar Jitesh. Namun, yang pasti, kehadiran teknologi AI dapat memudahkan para pengguna.
sumber : klik
daftar online : disini

