(061) 7883991 | 0877 6644 8555 stims@stimsukmamedan.ac.id

Edi Winata.SE.MM

Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma

Remaja Gen Z tumbuh dalam era yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lahir dan besar di tengah kemajuan teknologi, media sosial, dan arus informasi yang tak terbendung. Dunia mereka adalah dunia yang serba cepat, instan, dan terkoneksi. Namun, di balik kemudahan akses dan konektivitas, muncul tantangan besar: bagaimana membentuk kepribadian yang kuat dan unggul di tengah arus digital yang kadang membingungkan.

Kepribadian bukan sekadar karakter bawaan, melainkan hasil dari proses panjang pembentukan nilai, sikap, dan kebiasaan. Dalam konteks Gen Z, kepribadian menjadi penentu bagaimana mereka berinteraksi, mengambil keputusan, dan menghadapi tekanan sosial. Di era digital, kepribadian yang matang menjadi benteng dari pengaruh negatif media sosial, hoaks, dan budaya instan yang menggerus kedalaman berpikir.

Jean M. Twenge dalam bukunya iGen (2017) menyebut bahwa Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh bersama smartphone dan media sosial sejak usia dini. Hal ini memengaruhi cara mereka membentuk identitas dan memahami dunia. Twenge menyoroti bahwa konektivitas digital yang tinggi justru membuat mereka lebih rentan terhadap kecemasan dan krisis identitas, sehingga penguatan kepribadian menjadi sangat penting.

Kepribadian unggul mencakup kemampuan untuk berpikir kritis, memiliki empati, tangguh secara emosional, dan mampu beradaptasi. Gen Z yang memiliki kepribadian matang akan lebih siap menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika sosial yang kompleks. Mereka tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga agen perubahan yang sadar akan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Corey Seemiller dan Meghan Grace dalam Generation Z: A Century in the Making (2019), Gen Z sangat menghargai keberagaman, keaslian, dan keadilan sosial. Mereka memiliki potensi besar untuk membentuk dunia yang lebih inklusif. Namun, potensi ini hanya bisa diwujudkan jika mereka memiliki kepribadian yang kuat, yang mampu menyaring informasi dan membentuk opini berdasarkan nilai-nilai yang sehat.

Pendidikan karakter menjadi salah satu jalan utama dalam membentuk kepribadian Gen Z. Sekolah, keluarga, dan komunitas harus bersinergi dalam menanamkan nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, dan empati. Di era digital, pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan ceramah, tetapi harus dikemas dalam pengalaman nyata, diskusi terbuka, dan refleksi diri yang mendalam.

David Stillman dalam Gen Z @ Work (2017) menyatakan bahwa Gen Z memiliki kecenderungan berpikir strategis dan kritis. Mereka tidak mudah menerima informasi mentah, tetapi ingin tahu alasan di baliknya. Ini adalah peluang besar untuk membentuk kepribadian yang analitis dan reflektif, asalkan mereka dibimbing dengan pendekatan yang relevan dan kontekstual.

Media sosial, meski sering dianggap sebagai ancaman, juga bisa menjadi alat pembentuk kepribadian jika digunakan dengan bijak. Gen Z bisa belajar tentang empati, solidaritas, dan keberanian melalui kampanye sosial, konten edukatif, dan komunitas digital yang positif. Tantangannya adalah membangun literasi digital yang kuat agar mereka tidak terjebak dalam budaya viral yang dangkal.

Don Tapscott dalam Grown Up Digital (2016) menekankan bahwa generasi digital memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan sosial. Mereka memiliki akses ke pengetahuan global dan kemampuan untuk berkolaborasi lintas batas. Namun, tanpa kepribadian yang matang, potensi ini bisa berubah menjadi kebingungan identitas dan perilaku impulsif.

Remaja Gen Z juga menghadapi tekanan untuk tampil sempurna di dunia maya. Filter, likes, dan algoritma membentuk standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis. Di sinilah pentingnya kepribadian yang kuat, agar mereka tidak kehilangan jati diri dan tetap berpegang pada nilai-nilai autentik yang membentuk karakter sejati.

Pendidikan formal harus mulai mengintegrasikan pengembangan kepribadian dalam kurikulum. Bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga soal bagaimana siswa belajar mengenali diri, mengelola emosi, dan membangun relasi yang sehat. Program mentoring, konseling, dan kegiatan sosial bisa menjadi sarana efektif untuk membentuk kepribadian yang tangguh.

Dr. Laurensius Laka dalam buku Pendidikan Karakter Gen Z di Era Digital (2024) menekankan bahwa karakter Gen Z dapat dibentuk melalui pendekatan yang adaptif dan kontekstual. Ia menyarankan agar pendidikan karakter tidak bersifat normatif, tetapi dialogis dan partisipatif, sehingga remaja merasa dilibatkan dalam proses pembentukan nilai.

Keluarga juga memegang peran penting dalam membentuk kepribadian Gen Z. Di tengah kesibukan dan distraksi digital, waktu berkualitas bersama orang tua menjadi momen penting untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Komunikasi terbuka, empati, dan keteladanan adalah kunci agar remaja merasa didengar dan dihargai.

Komunitas digital yang sehat bisa menjadi ruang pembelajaran sosial bagi Gen Z. Mereka bisa belajar tentang keberagaman, toleransi, dan kerja sama melalui interaksi dengan berbagai latar belakang. Namun, penting untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh opini mayoritas yang belum tentu benar.

Kepribadian unggul juga mencakup kemampuan untuk mengelola konflik dan perbedaan pendapat. Gen Z yang terbiasa berdiskusi dan menghargai perspektif lain akan lebih siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial yang penuh dinamika. Ini adalah soft skill yang sangat dibutuhkan di era global.

Remaja Gen Z perlu didorong untuk melakukan refleksi diri secara rutin. Menulis jurnal, berdiskusi, dan meditasi bisa menjadi cara untuk mengenali emosi, nilai, dan tujuan hidup. Dengan refleksi yang konsisten, mereka bisa membentuk kepribadian yang sadar dan terarah.

Penting juga untuk mengajarkan konsep growth mindset kepada Gen Z. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Dengan mindset ini, mereka akan lebih tangguh dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.

Kepribadian unggul bukan berarti sempurna, tetapi mampu menerima kekurangan dan terus berkembang. Gen Z yang memiliki kepribadian seperti ini akan lebih fleksibel, terbuka terhadap kritik, dan mampu belajar dari pengalaman.

Peran guru sebagai fasilitator pembentukan kepribadian sangat krusial. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga pembimbing nilai. Interaksi yang hangat, dialog yang terbuka, dan keteladanan akan membekas dalam diri siswa dan membentuk karakter mereka.

Gen Z juga perlu dikenalkan pada tokoh-tokoh inspiratif yang memiliki kepribadian kuat. Kisah nyata tentang perjuangan, integritas, dan keberanian bisa menjadi motivasi untuk membentuk karakter yang tangguh dan berdaya.

Kegiatan sosial seperti volunteering, kampanye lingkungan, dan proyek komunitas bisa menjadi sarana pembentukan kepribadian. Melalui pengalaman langsung, Gen Z belajar tentang empati, tanggung jawab, dan kerja sama.

Penting untuk menciptakan ruang aman bagi Gen Z untuk berekspresi dan belajar dari kesalahan. Lingkungan yang suportif akan mendorong mereka untuk tumbuh tanpa rasa takut dihakimi atau ditolak.

Kepribadian unggul juga mencakup kemampuan untuk menetapkan tujuan hidup. Gen Z yang memiliki visi dan misi akan lebih fokus dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat. Ini bisa dibentuk melalui coaching, mentoring, dan eksplorasi minat.

Di era digital, kepribadian menjadi fondasi utama untuk bertahan dan berkembang. Gen Z yang memiliki kepribadian kuat akan mampu menyaring informasi, membentuk opini, dan mengambil keputusan yang bijak.

Membangun kepribadian unggul bukan tugas satu pihak, tetapi kolaborasi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan media. Dengan sinergi yang kuat, kita bisa menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara karakter.

 

Daftar Pustaka

  1. Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood. New York: Atria Books. ISBN: 978-1-5011-2146-8.

 

  1. Seemiller, C., & Grace, M. (2019). Generation Z: A Century in the Making. New York: Routledge. ISBN: 978-1-138-30494-4.

 

  1. Stillman, D., & Stillman, J. (2017). Gen Z @ Work: How the Next Generation Is Transforming the Workplace. New York: Harper Business. ISBN: 978-0-06-247544-2.

 

  1. Tapscott, D. (2016). Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World. New York: McGraw-Hill Education. ISBN: 978-0-07-180977-1.

 

  1. Laka, L., Darmansyah, R., Judijanto, L., Foera-era Lase, J., Haluti, F., Kuswanti, F., & Kalip, K. (2024). Pendidikan Karakter Gen Z di Era Digital. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia. ISBN: 978-623-8598-09-0.