Edi Winata.SE.MM
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma
Fenomena rendahnya daya juang mahasiswa generasi Z kini menjadi perhatian banyak kalangan pendidik. Di berbagai perguruan tinggi, dosen sering menghadapi keluhan mahasiswa yang mudah menyerah ketika diberi tugas, cepat merasa terbebani, dan bahkan menawar beban pekerjaan akademik seolah perkuliahan hanyalah rutinitas ringan. Tak jarang, ketika dosen memberikan tugas individu yang menantang atau penelitian kecil, respons yang muncul bukan semangat untuk belajar, melainkan keluhan: “Boleh dikumpulkan minggu depan saja, Bu?”, atau “Ada kisi-kisi ujian nggak, Pak?”. Gejala ini bukan sekadar perilaku malas, tetapi menunjukkan menurunnya daya juang (resilience) dan mental tangguh yang seharusnya menjadi ciri kaum intelektual muda.
Menurut Psikolog perkembangan, Ratih Ibrahim (2021), generasi Z tumbuh di era serba instan dan serba digital, yang membentuk karakteristik “instan gratification” atau kecenderungan untuk menginginkan hasil cepat tanpa proses panjang. “Mereka terbiasa dengan kemudahan teknologi—cukup klik, semua tersedia. Sayangnya, kebiasaan ini tanpa disadari menurunkan ketahanan terhadap proses yang memerlukan kesabaran dan usaha,” ujarnya. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan tugas akademik yang menuntut kerja keras dan analisis mendalam, banyak mahasiswa kehilangan motivasi di tengah jalan.
Sosiolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Prof. Arie Setiabudi (2020) menambahkan bahwa lemahnya daya juang generasi Z juga dipengaruhi oleh pola asuh keluarga modern yang terlalu protektif. Banyak orang tua berusaha mencegah anaknya mengalami kesulitan atau kegagalan, padahal pengalaman itulah yang seharusnya membentuk daya tahan mental. “Generasi ini tumbuh dalam lingkungan yang menekankan kenyamanan. Mereka jarang diberi ruang untuk gagal atau menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Maka ketika masuk dunia perkuliahan yang penuh tuntutan, benturan itu terasa berat,” jelasnya.
Fenomena “mudah menyerah” ini juga tampak dari kebiasaan mahasiswa yang cenderung menunda tugas (procrastination) dan menawar beban pekerjaan. Dalam setiap perkuliahan, sebagian mahasiswa tidak fokus pada makna pembelajaran, melainkan pada cara termudah untuk mendapatkan nilai baik. Mereka lebih suka bertanya tentang “kisi-kisi ujian” daripada memahami konsep materi secara menyeluruh. Menurut Ahli pendidikan tinggi, Dr. Lina Marlina (2022), sikap semacam ini menandakan terjadinya academic disengagement—ketidakterikatan emosional dan intelektual terhadap proses belajar. “Bagi sebagian mahasiswa, kuliah bukan lagi ruang untuk menemukan ilmu, melainkan sekadar kewajiban administratif agar lulus cepat,” tuturnya.
Salah satu faktor penyebab lemahnya daya juang generasi Z adalah tekanan mental akibat paparan media sosial yang berlebihan. Psikolog sosial, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (2019) menjelaskan bahwa dunia digital menciptakan tekanan sosial terselubung. Generasi ini sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial, sehingga muncul perasaan tidak cukup baik (inferiority) atau takut gagal (fear of failure). Akibatnya, ketika dihadapkan pada tantangan akademik, mereka lebih mudah menyerah karena takut tampil tidak sempurna. “Generasi yang hidup di bawah bayangan kesempurnaan digital akan kesulitan menghadapi realitas bahwa proses belajar adalah tentang mencoba dan gagal berulang kali,” ujarnya.
Selain itu, gaya belajar generasi Z yang sangat bergantung pada gawai juga memengaruhi pola pikir mereka. Menurut Pakar pendidikan digital, Dr. Yuliana Rahma (2023), kemudahan akses informasi justru membuat sebagian mahasiswa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan bertahan dalam proses pencarian ilmu. “Mereka terbiasa mencari jawaban instan lewat internet, bukan membangun argumen melalui proses berpikir panjang. Ini membuat mereka mudah frustrasi saat harus menyelesaikan tugas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ‘copy-paste’ atau pertanyaan ke AI,” katanya.
Dari sisi karakter, banyak dosen mengamati bahwa generasi Z cenderung lebih ekspresif namun kurang gigih. Mereka berani mengungkapkan pendapat, tetapi tidak selalu konsisten dalam tindakan. Ketika menghadapi tantangan, reaksi yang muncul sering kali emosional, bukan rasional. Ada yang mengeluh di media sosial, mengadu pada teman, atau menunda tugas hingga menit terakhir. Sementara generasi sebelumnya cenderung menerima tantangan sebagai bagian dari pembelajaran, generasi kini sering menganggap beban akademik sebagai tekanan yang tidak adil.
Ahli budaya dan generasi muda, Dr. Heru Nugroho (2020) menilai perubahan nilai ini sebagai dampak dari “krisis makna belajar”. Ia mengatakan, “Ketika pendidikan lebih dilihat sebagai formalitas ketimbang proses pembentukan karakter, maka daya juang akan turun. Mahasiswa belajar bukan karena haus ilmu, tetapi karena tuntutan sistem.” Menurutnya, dosen dan institusi pendidikan perlu menanamkan kembali nilai ketekunan, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah melalui pendekatan pembelajaran yang menantang namun bermakna.
Daya juang bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil dari pembiasaan dan pengalaman. Oleh karena itu, membangun mental tangguh pada mahasiswa generasi Z memerlukan strategi pembelajaran yang mendorong ketekunan dan refleksi diri. Misalnya, memberikan proyek jangka panjang, tugas berbasis riset lapangan, atau kolaborasi yang menuntut ketahanan kerja tim. Mahasiswa perlu diajak keluar dari zona nyaman agar mereka belajar menghadapi tekanan secara positif.
Namun, tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan dosen. Institusi pendidikan juga perlu menyediakan dukungan psikologis dan lingkungan belajar yang sehat. Menurut Psikolog pendidikan, Dr. Dewi Handayani (2021), kampus harus mampu menjadi tempat yang tidak hanya menuntut capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan daya lenting (resilience). “Mahasiswa yang punya tempat untuk menyalurkan stres, berdiskusi dengan dosen, atau mendapat bimbingan non-akademik akan lebih siap menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Pada akhirnya, rendahnya daya juang generasi Z bukanlah kesalahan mereka semata, tetapi cerminan dari perubahan sosial dan budaya yang membentuk mereka. Teknologi, gaya asuh, dan sistem pendidikan yang serba instan berkontribusi menciptakan generasi yang cerdas secara digital, namun rapuh menghadapi tekanan nyata. Tantangan dunia pendidikan kini adalah menumbuhkan kembali nilai grit—semangat gigih dan pantang menyerah—di tengah generasi yang terbiasa dengan kemudahan.
Jika mahasiswa mampu memahami bahwa proses belajar adalah bagian dari perjalanan hidup yang menuntut kesabaran, maka mereka tidak akan lagi bertanya “kisi-kisinya apa, Bu?”, melainkan “bagaimana saya bisa memahami ini lebih dalam?”. Daya juang bukan hanya soal kemampuan bertahan, tetapi tentang keberanian untuk terus mencoba meski gagal, dan itu adalah pelajaran yang paling berharga di dunia pendidikan.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
Arie Setiabudi. (2020). Sosiologi Pendidikan dan Tantangan Generasi Digital. Jakarta: Universitas Indonesia Press. ISBN 978-602-441-564-9
Dewi Handayani. (2021). Resiliensi dan Kesehatan Mental Mahasiswa di Era Digital. Bandung: Alfabeta. ISBN 978-623-456-789-0
Heru Nugroho. (2020). Budaya dan Etika Sosial di Ruang Publik Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ISBN 978-602-386-089-2
Lina Marlina. (2022). Pembelajaran Tinggi dan Keterlibatan Akademik Generasi Z. Jakarta: Rajawali Pers. ISBN 978-623-456-992-2
Ratih Ibrahim. (2021). Psikologi Anak dan Keteladanan Orang Tua di Era Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-623-456-987-0
Sarlito Wirawan Sarwono. (2019). Psikologi Sosial: Individu dan Dinamika Kelompok. Jakarta: RajaGrafindo Persada. ISBN 978-979-769-456-1
Yuliana Rahma. (2023). Digital Learning dan Transformasi Karakter Mahasiswa. Surabaya: Airlangga University Press. ISBN 978-623-8821-22-6

