Kita yang Tak Pernah Menjadi “Kita”
Namaku Bila, dan dia Rafly. Kami bertemu di masa remaja, duduk di bangku yang sama pada saat kelas 2 SMA, saat waktu istirahat, kami selalu menghabiskan waktu berdua hingga jam istirahat habis, kami selalu duduk di bangku panjang kantin, begitu terus setiap harinya, di saat dunia terasa sederhana dan seketika perasaan tumbuh tanpa permisi. Awalnya hanya kebiasaan duduk berdampingan , berbagi cerita kecil, lalu perlahan berubah menjadi rasa yang tak pernah kami beri nama.
Bangku panjang di kantin sekolah menjadi tempat favorit kami. Di sana, Rafly menemukan ketenangan, sementara Bila menemukan seseorang yang selalu mendengarkan. Mereka sering tertawa, seolah tidak ada masalah apa pun, padahal keduanya sama-sama menyimpan perasaan yang semakin hari semakin berat.
Rafly tahu sejak awal bahwa Bila bukan miliknya. Ada aturan, ada keadaan, dan ada masa depan yang sudah digariskan untuk Bila tanpa Raka di dalamnya. Namun, rasa itu tetap tumbuh, semakin dalam setiap kali Bila tersenyum, setiap kali ia bersandar sejenak untuk melepas lelah.
Hari-hari terasa berjalan lebih cepat ketika Bila mulai sering terdiam. Hingga suatu hari, Rafly tahu bahwa perpisahan hanya tinggal menunggu waktu. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kesalahan siapa pun. Hanya keadaan yang pelan-pelan memisahkan dua hati yang seharusnya bisa saling menjaga.
Namun sejak awal, aku tahu aku harus pergi. Keluargaku telah menentukan arah hidupku, dan aku terlalu pengecut untuk melawan. Aku memilih diam, menyimpan perasaan yang semakin hari semakin berat, sambil berharap Rafly tak pernah menyadarinya. Padahal, setiap senyumku adalah cara paling lemah untuk menyembunyikan rasa takut kehilangan.
Aku meninggalkan kota ini tanpa pernah mengatakan yang sebenarnya. Bukan karena aku tidak mencintainya, tetapi karena aku tahu, mencintai Rafly berarti menyakitinya. Aku tidak ingin memberinya harapan yang tidak bisa kutepati.
Di kota baru, aku sering merasa asing. Suara ramai tidak lagi menenangkan, dan setiap bangku kosong selalu mengingatkanku pada bangku panjang di kantin sekolah tempat aku dan Rafly biasa duduk, menikmati kebersamaan yang sederhana. Aku merindukan caranya hadir tanpa banyak bicara.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah Rafly masih duduk di tempat itu? Apakah ia masih menungguku, meski tahu aku tak akan kembali? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang di malam hari, saat aku tidak punya alasan untuk berpura-pura kuat.
Aku belajar satu hal yang paling menyakitkan:tidak semua cinta harus diperjuangkan, karena ada yang sudah kalah bahkan sebelum dimulai. Rafly adalah cinta itu, hadir hanya untuk disimpan, bukan dimiliki.
Jika suatu hari Rafly membaca cerita ini, aku ingin ia tahu bahwa kepergianku bukan karena ia kurang berarti. Justru karena ia terlalu berarti, aku memilih pergi dengan perasaan yang tidak pernah terucap.
Setelah kepergian Bila, dunia Rafly tidak benar-benar berubah. Sekolah tetap ramai, hari-hari tetap berjalan. Tetapi ada satu hal yang hilang, seseorang yang biasa mengisi ruang kosong di hatinya. Bangku panjang itu kini selalu kosong, namun Rafly masih sering duduk di sana, berharap pada hal yang sudah ia tahu tidak akan kembali.
Rafly menyadari bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Ada cinta yang hanya datang untuk mengajarkan arti kehilangan. Bila adalah pelajaran itu, hadir tanpa janji, ergi tanpa pamit dan tak bisa ditahan.
Hingga kini, Rafly masih menyimpan perasaan yang tidak pernah terucap. Tidak untuk diperjuangkan, tidak untuk dilupakan. Ia hanya membiarkannya hidup sebagai kenangan yang diam-diam melukai.
Karena ada perpisahan yang tidak bisa disebut putus,
dan ada cinta yang tidak pernah resmi dimulai,
namun perihnya terasa seumur hidup.
“Jatuh cinta di masa-masa remaja adalah jatuh cinta paling murni, tulus, dan tidak banyak menuntut. Bentuk fisiknya tak terlalu diperhatikan, kemapanan hidupnya tak jadi patokan, arah masa depannya belum kita ikut pikirkan. Asal sama-sama saling nyaman, semua bentuk kekurangan tak pernah benar-benar menjadi hambatan.”
“Tapi, bila kita sudah mulai memperhatikan dari semua sisi saat akan kembali menjatuhkan hati, maka bukan berarti cinta yang kita miliki sudah tidak murni. Hanya saja, semakin beranjak dewasa, jatuh cinta memang akan terasa semakin rumit saja. Seiring dengan kita yang terus bertumbuh, pengalaman kita pasti ikut bertambah. Keinginan dan kebutuhan kita akan cinta pasti berubah. Sebab nanti, cinta pun bukan lagi perihal hubungan dua arah antara si perempuan dengan lelakinya.”
Dan tentang Rafly dan Bila,
mereka bukan cerita yang selesai,
melainkan kisah tentang kita yang tak pernah menjadi “kita”.

