(061) 7883991 | 0877 6644 8555 stims@stimsukmamedan.ac.id

Rintik-rintik hujan mulai turun saat aku masih berada di halte yang sedang menunggu angkutan umum, hari ini tidak ada jemputan, orang tua ku sedang berada di rumah nenek, kabar yang kami dapatkan nenek sedang sakit oleh karna itu orang tua ku tidak menjemput ku hari ini, aku mulai berdecak kesal “ck… kenapa harus hujan dulu sih mana bus gak datang-datang lagi” aku tidak suka hujan karna hujan membuat ku sakit.

Terlihat oleh ku ada seseorang yang sedang gembira dengan turunnya hujan di depan sana, ‘apakah dia tidak takut sakit kalau main hujan’ tanyaku dalam hati. Tak lama ia berjalan mendekati ku, mungkin ia ingin berteduh di halte ini. Hujan belum juga berhenti, dan aku hanya berdiam diri dari tadi, sampai ia memberanikan diri untuk berbicara kepada ku mungkin ia juga bosan.

“Hmm… Maaf kalau boleh tau nama kamu siapa?” Tanyanya kepada ku. “Zahra” jawabku seadanya.

“Nama yang bagus” ucapnya lirih namun masih terdengar oleh ku.

“Nama ku putra” ujarnya tanpa menoleh ke arahku , aku yang kesal tak menggubris ucapannya toh aku juga tidak bertanya. Dia mulai menikmati percikan-percikan air hujan yang turun lalu hujan pun semakin deras, tak ku hiraukan dia yang senang akan dunianya sendiri, aku merasakan muka ini semakin menekuk sangking kesalnya karna bus yang ku tunggu tidak juga kunjung datang. Aku menoleh kearahnya ternyata ia sudah basah sebab ia tak lagi berteduh. Tampak ia sangat gembira bermain hujan, sepertinya sangat jarang jika anak laki-laki seumuran dengannya bermain hujan, mungkin juga hanya dia.

”ayoo.. apakah kamu tidak ingin bermain hujan, kamu tahu ini sangat menyenangkan” ucapnya saat mengetahui aku sedang melihatnya.

“ Tidak, aku tidak suka dengan hujan” ujarku menolak ajakannya “Mengapa?” Tanyanya kepada ku.

“Sebab hujan membuat ku sakit” jawabku jujur. “Itu karna kamu tidak terbiasa”

Berkali-kali ia menyuruh ku untuk bergabung dengannya tapi berkali-kali juga aku menolaknya. Tak lama kemudian bus yang ku tunggu pun tiba. Aku langsung berjalan ke arah pintu bus tersebut, tetapi saat sampai di pintu aku menoleh ke belakang, ku pikir ia mengikuti ku dari belakang, ternyata ia masih saja menikmati rintikan air hujan tersebut. “Apakah kamu tidak ingin pulang?” Tanyaku kepadanya dengan suara yang sedikit ku keraskan.

“Tidak, aku masih ingin menikmati air-air hujan ini, lagian rumah ku tidak jauh dari sini, jadi tak perlu naik bus” jawabnya.

Ah terserah dia saja lah, aku tidak perduli lagian dia bukan siapa-siapa ku, aku pun mencari kursi yang kosong untuk ku duduki, dan akhirnya aku mendapatkannya tepat di samping jendela, saat bus ingin berjalan aku melihatnya kembali dan di saat itu juga aku tersenyum kepadanya karna aku melihatnya sedang melambaikan tangan ke arah ku.

Keesokan harinya sama seperti hari kemarin hujan turun di saat aku menunggu angkutan umum dan putra juga berada di halte tersebut, aku mulai mengakrabkan diri dengannya. Kami pun hanyut dalam obrolan itu , banyak hal yang diceritakan oleh putra, sampai tak terasa bus pun tiba. “Waah bus nya sudah tiba put, aku luan ya” ucapku menyudahi obrolan kami.

“Yasudah hati-hati di jalan ya ra”

Aku pun berjalan menuju bus yang sedang berhenti itu dan duduk tepat di jendela lagi, untuk kedua kalinya aku melihat putra sedang melambaikan tangannya kearah ku dan ku sambut dengan lambaian juga.

Hari-hari ku lalui lebih berwarna karna adanya putra yang menemani ku saat di halte, aku pernah bertanya kepadanya mengapa ia sangat menyukai hujan dan ia menjawab “karna hujan dapat menghubungkan ku dengan orang-orang yang aku sayangi” aku tak mengerti maksudnya dan hari ini jika aku bertemu dengannya akan ku tanyakan itu.

Benar saja aku bertemu dengannya lagi dan lagi tanpa basa-basi aku langsung menanyakan tentang kebingungan ku itu, “put.. kamu pernah bilang kalau hujan dapat menghubungkan mu dengan orang yang kamu sayang, bagaimana caranya itu terjadi?” Tanya ku dengan wajah bingung.

“Lewat kenangan” jawabnya singkat, aku pun terdiam lalu ia berbicara kembali “lewat hujan lah aku dapat merasakan kenangan itu, dengan cara cukup lihat rintikan hujan dan memejamkan mata, itu saja sudah cukup bagi ku. Jika nanti kita tak berjumpa lagi kamu bisa melakukan itu” jawabnya yang membuat ku terkejut.

“Memangnya kamu mau ke mana?” tanyaku bingung, per sekian detik ku tunggu jawaban yang keluar dari mulutnya tapi hanya keheningan yang ada, dia tidak menjawab pertanyaan ku. Tak lama kemudian papa ku datang menjemput “aku luan ya, papa ku sudah menjemput ku“ ucapku. Ia hanya menganggukkan kepalanya, aku pun naik ke jok motor belakang dan tak melihat kearah nya lagi. Bahkan sesampainya aku dirumah aku tetap memikirkan perkataan putra yang membuatku bingung.

Aku tak menyangka perkataan putra hari itu benar terjadi, kami tidak bertemu lagi tak ada canda tawa di halte bus, tak ada lambaian saat aku akan pulang, aku tak pernah mengira bahwa itu pertemuan terakhir kami dan sekarang sudah dua Minggu berlalu aku merasakan ada yang hilang dari diriku di mana Zahra yang selalu ceria, apakah aku merasakan kehilangan seorang putra tapi mengapa itu terjadi kami tidak ada hubungan apa-apa hanya teman ya teman atau juga bisa sahabat, apakah aku harus kehilangan teman seperti dia, selama sepuluh hari aku mencari tentang keberadaannya, menanyakan kepada orang-orang bahkan ke rumah-rumah yang berada tak jauh dari halte itu, namun aku tak mendapatkan informasi apa-apa aku mulai berhenti mencarinya, mungkin aku juga menyerah.

Di saat aku sedang menunggu papa ku menjemput ku ternyata hujan turun dengan derasnya secara tiba-tiba, aku langsung berlari ke halte tempat dimana biasanya aku menunggu bus, aku takut aku akan sakit jika terkena rintikan-nya. Namun aku tiba-tiba melihat seseorang sedang melambaikan tangan di seberang jalan sana itu seperti putra ya itu putra aku tak mungkin salah lihat seketika aku langsung tersenyum dan melambaikan tangan ku juga tetapi saat aku mulai melangkahkan kaki ke arah putra, ia sudah tak terlihat lagi, apakah itu hanya halusinasi ku saja, mungkin karena aku terlalu berharap akan kehadirannya. Aku teringat akan perkataan putra

pada hari itu dimana jika ia ingin terhubung dengan orang-orang yang ia sayang ia akan berada di bawah rintikan hujan dan memejamkan matanya, tanpa berpikir panjang aku melakukan hal tersebut, untuk kedua kalinya aku basah oleh hujan, setelah mama marah kepada ku disaat aku masih SD karena aku pulang kerumah dalam keadaan basah. Aku merasa akan hadirnya seseorang didekat ku namun bukannya aku bahagia tetapi aku merasakan kebencian yang mendalam, lihat lah betapa bodohnya aku mau melakukan hal konyol ini hanya karena ingin merasakan kehadirannya, aku benci rasa rindu ini aku benci akan rasa kehilangan ini, aku benci pertemuan ku dengannya, lalu aku menjerit sekeras-kerasnya “putra….. Aku benci kamu… Mengapa kita harus bertemu jika akhirnya kamu menghilang dari ku  ” dan tanpa permisi air

mata ku tumpah begitu saja, aku menangis sejadi-jadinya dibawah rintikan air hujan, air air itu lah yang menjadi saksi betapa hancurnya aku saat itu.

Sejak hari itu aku membenci mu dan juga hujan, kamu dan hujan sama-sama membuatku sakit.

Selesai.

Siti Nurhaliza Dayanti