(061) 7883991 | 0877 6644 8555 stims@stimsukmamedan.ac.id

“Egois Berujung Penyesalan”


Aku Tiara, seorang kakak dari adik ku yang bernama Caca. Di suatu pagi pada saat itu, Caca
mengajak ku untuk pergi jalan jalan menikmati hari libur namun aku menolak


“Kak besok kita pergi jalan jalan yuk. Menikmati liburan” ucap Caca


“Pergi saja sendiri, aku mau pergi dengan teman ku “ jawab ku dengan nada kesal


Caca terlihat sedih, namun aku tidak perduli. Aku lebih memilih pergi dan bersenang senang dengan
teman ku


Entah mengapa beberapa bulan itu aku jadi membenci Caca. Karena mama dan papa terlihat
memberi kasih sayang yang lebih pada nya.


Keesokan harinya, kami pun pergi menikmati waktu liburan. Namun aku pergi dengan temanku, dan
Caca pergi dengan mama papa.


“ huh lagi lagi mama dan papa memberi kasih sayang yang lebih pada Caca. Lebih baik kamu mati
saja ca aku sudah muak denganmu” ucap batinku


Setelah pulang menikmati waktu libur, Caca bertanya padaku “ kak gimana liburan hari ini?
Menyenangkan tidak? “ “bukan urusanmu” jawabku. “ yaah kakak kok gitu sii. Ohh iya kak, aku
pengeeen banget menikmati liburan bareng kakak seperti dulu lagi. Minggu depan kita liburan
bareng ya kak plisss. Akhirakhir ini kakak terlalu sibuk dengan urusan kakak sampai tidak ada waktu
luang untuk main bareng aku”. Caca terus mengoceh namun aku tidak menghiraukan nya. Aku
langsung tidur karena akupun sudah sangat capek di tambah lagi harus menghadapinya.


Keesokan paginya saat di meja makan, mama menyuruh ku untuk mengantar Caca ke sekolah nya
karena mama sedang tidak bisa mengantar Caca dan papa pun sedang dinas ke luar kota. “ Tiara,
nanti kamu sekalian antar Caca ke sekolah yaa soalnya mama lagi gak bisa antar. Kan sekolah Caca
sejalan dengan kampus kamu” ucap mama. “ Males ah ma, suruh saja Caca jalan, lagian sekolah dia
kan gak terlalu jauh dari rumah. Lagian manja banget sihh pake di antar segala “ jawabku. “Tiara
sayaang, kamu gak boleh gitu dong nak. Menurut mama sekolah nya Caca lumayan jauh loh sayang.
Kan kasian Caca kalau harus jalan ntar kecapean. Tolong antar Caca ya nak, hari ini mama benar
benar tidak bisa mengantar Caca karena ada kerjaan yang harus mama selesaikan”.


Akhirnya akupun mau mengantar Caca. Dan saat diperjalanan Caca bicara padaku. “ kak, aku seneng
banget tau di anterin sama kakak. Uda lama juga kita gak pergi bareng. Rasanya aku kangeen banget
sama kakak. Kakak kenapa sih akhir akhir ini seperti ngehindar terus dari aku?”.


“ Heh, kalau bukan karna mama aku gak bakal mau ya antar kamu !. Lagian manja banget sih jadi
orang. Asal kamu tau ya, aku tuh benci sama kamu. Gara gara kamu sekarang mama dan papa gak
sayang sama aku “. Jawabku


“ kak, kamu salah paham kak. Mama sama papa juga sayang banget sama kakak. Caca bisa jelasin
kok “ ucap Caca


“ sudah lah lebih baik kamu diam. Aku gak butuh penjelasan apa apa dari mulut anak manja seperti
kamu “ jawabku. Caca pun sedih dan sedikit meneteskan air mata ketika aku menjawab demikian.
Namun saat itu aku masih sangat tidak perduli.

Hari demi hari pun berlalu. Semenjak saat itu aku jarang bertemu Caca, karena aku sibuk dengan
urusan kuliah ku. Saat aku pulang kuliah, Caca sudah tidur duluan. Dan saat pergi pun, aku tak
sempat bertemu dengan nya. Sampai pada hari dimana besoknya adalah hari libur. Aku teringat Caca
mengajak ku pergi menikmati liburan minggu ini. Entah mengapa pada hari itu pikiran ku mulai
terbuka dan aku ingin berbaikan dengan caca. Karena lama lama aku merasa tidak enak juga kalau
terus terusan begini.


Besok paginya, tepat nya hari minggu. Saat aku bangun, aku bergegas ke kamar caca. Aku ingin
mengajaknya liburan dan sekaligus meminta maaf atas perbuatan yang telah aku lakukan. Namun
saat tiba di kamarnya, aku tidak melihat caca. Yang ada hanya bibik yang sedang beres beres di
kamarnya. “ Bik, Caca kemana ya? Kok pagi pagi udah gak ada di kamarnya”. Tanyaku


“ Ooh caca tadi sakit non. Ibu dan bapak pergi membawa caca kerumah sakit”.


“ ohh gitu yaudadeh bik”.


Aku sedikit kecewa saat itu, karena belum sempat bertemu Caca. Tapi tidak masalah masih ada
minggu depan pikirku. Saat hendak keluar, aku tidak sengaja melihat sebuah surat diatas meja
belajar caca. Saat kulihat, sontak membuatku terkejut karena ternyata surat itu ditujukan untuk ku.
Aku pun mulai membacanya.


“ Dear Kakak. Kak aku kangen banget sama kamu. Walaupun kita satu rumah, rasanya seperti jauh.
Sekarang kakak sibuk banget dengan urusan kakak sendiri. Sampai sampai kita gak pernah
menghabiskan waktu bersama lagi. Tapi aku memaklumi kok kak, namanya juga sudah kuliah yaa
hehehe. Nanti aku juga bakal ngerasain sibuk seperti kakak juga kok. Tapi aku masi kepikiran dengan
omongan kakak kemaren waktu nganter aku ke sekolah. Beneran kakak benci sama aku? Caca harap
kakak Cuma bercanda ya soalnya Caca jadi kepikiran terus sama kata kata kakak. Soal mama papa
lebih sayang ke aku, kakak salah. Mama dan papa juga sayaaang banget sama kakak. Mungkin
mereka memberi perhatian lebih karena aku sakit sakitan. Yauda ga usah di bahas deh. Oh iya hari
minggu kita liburan bareng ya kak plisss. Aku ngomong nya sampe pakai surat loh, karna gak pernah
ketemu kakak”.


Setelah membaca surat itu, aku jadi sedih dan merasa bersalah pada Caca. Gak seharusnya aku
mengatakan kalau aku membencinya. Aku terlalu egois, terlalu ingin di sayang sendiri oleh mama
papa. Sampai sampai aku merasa cemburu pada adik ku sendiri, dan aku berpikir kalau mama papa
tidak menyayangi ku.


“ maafin kakak ya Ca, kakak janji ga bakal kaya gini lagi “ batinku


Setelah itu, aku bergegas untuk siap siap dan pergi ke rumah sakit menemui Caca. Aku berharap
Caca hanya sakit biasa dan bisa segera pulang.


Sesampainya di rumah sakit, aku terkejut melihat mama menangis.


“ Ma, mama kenapa? Kok mama nangis” tanyaku. Mama terus menangis dan tidak menjawab
pertanyaanku.


Lalu kutanya papa. “ Pa, mama kenapa nangis?”


Tiara, mama nangis karena sekarang kondisi adik kamu sedang kritis” jawab papa.


“ apaaa? Kritis? Ma,pa, Caca sakit apaa? Kenapa bisa kritis?” akupun mulai panik dan melontarkan
begitu banyak pertanyaan karena selama ini aku tidak tau Caca sakit apa hingga bisa seperti ini.

Kemudian mama menjawab sambil menahan tangis “ Tiara, sebenarnya Caca mengidap Leukimia
sejak 2 tahun yang lalu. Namun, mama dan papa tidak pernah cerita ke siapapun termasuk Caca
sendiri. Mama takut Caca akan down jika dia tau penyakit yang di deritanya. Inilah alasan mengapa
mama dan papa memberi perhatian lebih pada Caca “.


Mendengar jawaban tersebut sontak saja membuat ku ikutan menangis dan di hantui perasaan
bersalah pada Caca. Andai aku tau sejak awal, aku tidak akan membencinya. Mungkin aku akan
sangat menyayanginya seperti yang mama dan papa lakukan.


“ ya ampun Caaa maafin kakak yaa. Maaf banget kakak terlalu egois. Sekarang kakak sudah sadar ca,
kakak sayaaang banget sama kamu. Pliss kamu sembuh yaa, biar kita bisa liburan bareng lagi sama
mama papa jugak” ucap batinku sambil memandangi Caca yang tak kunjung sadar lewat kaca
jendela.


Tak lama kemudian, dokter menghampiri kami.


“ bagaimana keadaan Caca dok? Tanya mama.


“ Sampai saat ini Caca masi kritis bu, dan sekarang Caca membutuhkan donor darah B. Namun, stok
darah B sudah abis di rumah sakit ini” jawab dokter itu.


Tanpa berpikir panjang aku langsung bilang ingin mendonorkan darah ku karena kebetulan golongan
darah kami sama. Dan dokter pun mengiyakan nya.


Tak lama kemudian, saat hendak persiapan transfusi darah, kondisi Caca malah semakin kritis. Aku
sangat khawatir dengan caca dan takut terjadi apa apa


Daan benar saja, saat itu Caca menghembuskan nafas terakhirnya. Isak tangis dari kami pun
memenuhi seluruh isi ruangan. Aku sangat sedih dan menyesal. Di saat saat terakhir Caca, bukan nya
aku menyayanginya malah membencinya. Kini aku menjadi anak satu satunya mama papa dan
menjadi anak yang paling di sayang. Ego ku pun terpenuhi. Namun aku tidak merasa senang
melainkan hanya menyesal. Karna menjadi anak kesayangan sudah tidak ada gunanya untuk ku.

Karya : Indah Permata Sari, 21130020, Manajemen Keuangan

×

Hai!

Selamat datang di Situs Website STIM SUKMA MEDAN, klik pada salah satu Tim Support kami dibawah ini, untuk berkomunikasi dengan kami via WhatsApp atau email Kami ke stimsukma1@gmail.com & stims@stimsukmamedan.ac.id.

× Hai! Butuh Bantuan?