Kami bertemu di tempat yang paling netral di dunia: perpustakaan kampus. Aku sibuk dengan catatan kuliah, sementara dia tenggelam dalam buku filsafat. Namanya Arga. Dari obrolan ringan tentang tugas, percakapan kami perlahan tumbuh menjadi kebiasaan—tentang mimpi, keluarga, dan hal-hal kecil yang sering membuat kami tertawa.
Sampai suatu sore, ia bertanya dengan nada hati-hati,
“Kamu biasanya ibadah hari apa?”
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab. Sejak saat itu, ada jeda yang tak pernah benar-benar hilang di antara kami. Bukan karena kami berhenti bicara, tetapi karena kami mulai memilih kata dengan lebih pelan.
Kami berbeda keyakinan.
Arga tetap menungguku di bangku yang sama setiap pagi. Aku tetap menyisakan kursi kosong di sampingku untuknya. Kami saling menghormati doa masing-masing, saling mengingatkan waktu ibadah, namun tak pernah memaksakan apa pun. Cinta kami tumbuh dengan batas—dan justru di situlah rasanya paling tulus.
Namun dunia tak selalu selembut niat baik. Pertanyaan demi pertanyaan datang dari sekitar, seolah cinta harus selalu punya satu warna yang sama. Kami mulai lelah menjelaskan.
Suatu hari, Arga berkata,
“Mungkin mencintai bukan selalu tentang memiliki.”
Aku mengangguk, meski hatiku bergetar. Kami memilih berjalan ke arah yang berbeda, membawa doa masing-masing. Tidak ada pertengkaran, hanya perpisahan yang sunyi.
Kini, setiap kali aku berdoa, namanya tetap kusebut—dengan caraku sendiri. Karena meski keyakinan kami berbeda, harapan kami pernah bertemu di satu titik yang sama: saling mengikhlaskan.

