Bertahan di Ruang Abu-abu
Puisi tentang mencintai dalam ketidakpastian
Hari pertama di aula yang penuh wajah asing,
Ada seseorang yang membuat segalanya terasa berbeda,
Bukan karena hal yang mencolok atau istimewa,
Tapi cara kehadiran itu mengubah dunia yang baru kubuka.
Dunia itu kemudian terisi kelas-kelas yang kita lalui,
Area sekitar kampus, percakapan sederhana yang kusimpan,
Setiap momen bersama terasa berharga sekaligus menyakitkan,
Karena aku tahu ini semua mungkin hanya kenangan untukku.
Kenangan yang terus tumbuh bersama perasaan campur aduk,
Badai yang berpura-pura jadi angin sepoi di permukaan,
Bahagia karena dekat, tapi sakit karena tak bisa lebih—
Berharap tapi takut berharap, mencintai tapi takut mengakui.
Mengakui bahwa mungkin sudah jelas sikapku berbeda,
Cara aku menatap terlalu lama, tersenyum terlalu lebar,
Semua orang mungkin sudah tahu—bahkan kau mungkin tahu—
Tapi aku tak yakin apakah kau merasakan hal yang sama.
Yang sama-sama aku tahu: ada nama lain yang mengisi hatimu,
Dan di sinilah aku terjebak antara tetap ada atau menjauh,
Kadang marah pada diriku—kenapa membiarkan ini tumbuh begitu dalam?
Kenapa terus berharap, meski tahu kau mungkin tak akan memilihku?
Memilihku atau tidak, kita tetap berteman seperti biasa,
Aku tertawa bersamamu sambil menyembunyikan sakit,
Mendengarkan ceritamu tentang dia sambil mematahkan hatiku,
Bertanya dalam diam—apakah ada sedikit saja ruang untukku?
Ruang untukku di tengah ketidakpastian yang terus menghantui,
Mencintai tanpa kepastian, berharap tanpa jaminan,
Bertahan di ruang abu-abu antara ada dan tiada—
Di titik dimana mencintaimu terasa berkah sekaligus kutukan.

