Kontributor: Juli M.
Semangat Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, diterjemahkan menjadi aksi nyata di Kota Lintang Bawah Ujung, Aceh Tamiang. Selama tiga hari (12-14 Desember 2025), Bapak Riandani Rezki Prana, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Sukma, memimpin sebuah tim relawan solid, berkolaborasi dengan APPERTI (Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi), APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia), Politeknik Cendana, dan ikatan keluarga raudatul hasanah alumni 06 dan PB ISMI (Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia). APTISI sebuah organisasi profesi yang menjadi wadah bagi seluruh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Badan Hukum Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (BHP-PTS) di seluruh Indonesia. APPERTI adalah organisasi yang mewakili dan mengoordinasikan berbagai PTS di Indonesia untuk bersama-sama membangun dan memajukan pendidikan tinggi nasional. PB ISMI Adalah organisasi kemasyarakatan yang menghimpun para sarjana keturunan Melayu. Misi mereka adalah mendirikan Dapur Umum dan Posko Bantuan yang terpusat. Ini adalah panggilan bagi kita, para mahasiswa, untuk tidak tinggal diam!.
Lokasi bencana di ujung Aceh Tamiang sempat kesulitan dalam distribusi bantuan yang berkelanjutan. Bantuan yang datang langsung ke warga cepat habis tanpa ada stok cadangan. Menjawab tantangan ini, tim yang terdiri dari akademisi dan profesional bergerak cepat. Setibanya di lokasi, tenda didirikan, genset dipinjamkan untuk penerangan, dan peralatan masak disiapkan. Yang luar biasa, para ibu di lokasi bencana segera bergabung, membentuk tim inti Dapur Umum—sebuah inisiensi community-based response.
Gamba 1. Tim relawan sedang beraktivitas di daour umum yang dijadikan posko di Kota Lintang Bawah Ujung, Aceh Tamiang
Sumber: Foto dok pribadi
Bapak Riandani yang berkoordinasi langsung dengan warga bernama Pak Ari, mengamati kondisi yang memilukan: 100 hingga 150 KK terdampak, dengan kerugian materiil yang ekstrem—rumah-rumah benar-benar habis dihanyutkan air. “Kondisi di lapangan sangat menyedihkan. Air membawa semuanya,” ungkap Bapak Riandani.
Sebagai bagian dari sivitas akademika, kita harus memahami bahwa peran kampus tidak hanya di dalam kelas. Kehadiran STIM Sukma dan Politeknik Cendana, serta dukungan dari APPERTI dan APTISI, menunjukkan komitmen PTS dalam membangun bangsa. Namun, ada hal yang lebih penting dari sekadar logistik:
Para penyintas, termasuk anak-anak dan orang dewasa, mengalami trauma berat. Mereka menyaksikan air datang dan menghanyutkan segalanya. Mereka membawa tatapan kosong, terbayang-bayang peristiwa tersebut. Bapak Riandani mengingatkan, “Harta bisa dicari, tapi keluarga dan kondisi pasca-traumatik perlu perhatian kita bersama.” Di sinilah peran Mahasiswa Psikologi, Ilmu Komunikasi, atau bahkan Manajemen Bencana sangat dibutuhkan untuk melakukan pendampingan psikososial.

Gambar2. Tim relawan sedang berinteraksi dengan anak warga setempat
Sumber: Foto dok pribadi
Aksi Dosen Riandani dan tim relawan adalah inspirasi. Ini membuktikan bahwa sinergi lintas institusi dan komunitas sangat efektif dalam masa krisis. Mari kita, sebagai generasi penerus dan bagian dari kampus, menyuarakan dan menggalang dukungan lebih lanjut, terutama untuk kebutuhan pemulihan mental para korban. Hubungi BEM atau lembaga terkait untuk mengetahui bagaimana kontribusi mahasiswa dapat dilanjutkan, khususnya dalam program pascabencana.


